Meratap Bersama Sungai: Kritik Eko-Teologi terhadap Pembuangan Sampah di Sungai Barito Desa Talio
Keywords:
Eko-Teologi, Pembuangan sampah, Sungai Barito, Desa Talio, Teologi Ratapan, Pertobatan EkologisAbstract
Abstract
The environmental crisis in Indonesia—specifically the pollution of water resources—is often viewed solely as a technical, administrative, and economic issue. This study aims to shift that paradigm by offering a critical eco-theological reading of the phenomenon of waste disposal into the Barito River in the Talio Village area. Employing a descriptive-qualitative method with an interdisciplinary approach—integrating ecology, rural sociology, and contemporary Christian theology—this paper dissects the roots of the destructive anthropocentrism underlying local community behavior. The eco-theological analysis is sharpened through the concepts of the "theology of lament”. The findings reveal that the Barito River has transformed from a sacred space into a utilitarian instrument; social normalization has turned pollution into a habit; and the lack of landfill infrastructure has exacerbated the crisis. Consequently, the Church must move away from an earth-indifferent spirituality toward a praxis of "ecological conversion" that restores relational harmony among God, humanity, and all of creation.
Abstrak
Krisis lingkungan di Indonesia, khususnya pencemaran sumber daya air, sering kali dipandang semata-mata sebagai problem teknis, administratif, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menggeser paradigma tersebut dengan melakukan pembacaan eko-teologis yang kritis terhadap fenomena pembuangan sampah ke aliran Sungai Barito di wilayah Desa Talio. Melalui metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan interdisipliner antara ekologi, sosiologi pedesaan, dan teologi Kristen kontemporer, tulisan ini membedah akar antroposentrisme destruktif yang mendasari perilaku masyarakat setempat. Analisis eko-teologis dipertajam menggunakan konsep teologi ratapan (theology of lament). Temuan menunjukkan Sungai Barito bertransformasi dari ruang sakral menjadi instrumen utilitarian, normalisasi sosial menjadikan pencemaran sebagai kebiasaan, dan ketiadaan infrastruktur TPA memperparah krisis. Dalam hal ini, Gereja perlu beralih dari spiritualitas yang abai terhadap bumi menuju praksis pertobatan ekologis (ecological conversion) yang memulihkan keselarasan relasional antara Allah, manusia, dan seluruh ciptaan.
References
Berry, T. (2017). The Dream of the Earth. In The Top 50 Sustainability Books. https://doi.org/10.4324/9781351279086-16
Borrong, R. P., & Baru, E. B. (n.d.). Kronik Ekoteologi: Berteologi Dalam Konteks Krisis Lingkungan.
Dalton, A. M. (1999). A Theology for the Earth: The Contribution of Thomas Berry and Bernard Lonergan (O. U. of O. Press (ed.)).
Darmadi, D. (2025). Penghakiman bagi Perusak Bumi: Tinjauan Teologi Ekologis dalam Wahyu 11:18 dan Implikasinya bagi Pendidikan Kristen Anak di Gereja. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika, 8(2), 221–237. https://doi.org/10.34081/fidei.v8i2.616
Hardani, Helmina Adriani, D. J. S. (2020). Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. In Pustaka Ilmu.
Jeujanan, A. (2023). Kedudukan dan Tanggung Jawab Manusia dalam Alam Menurut Thomas Berry. Jurnal Seri Mitra (Refleksi Ilmiah Pastoral), 2(2), 108–123. https://journal.stfsp.ac.id/index.php/jb/article/view/212
Indrawati, D. (2011). Upaya Pengendalian Pencemaran Sungai yang diakibatkan oleh Sampah. Indonesian Journal of Urban and Environmental Technology, 5(6), 185. https://doi.org/10.25105/urbanenvirotech.v5i6.692
John Stott. (2005). Isu-isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani. In su-isu Global Menantang Kepemimpinan Kristian.
Keraf, A. S. (2010). Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup Global.
Lelboy, V. (2017). Membangun Kepedulian Pastoral Ekologi. Jurnal Reinha, 7(2), 73–88. https://doi.org/10.56358/ejr.v7i2.15
Leo, O. G. (2025). Berteologi Hijau di Tengah Dunia yang Terluka: Pergeseran Paradigma dari Antroposentrisme menuju Ekosentrisme. Jurnal Akademika, 2(24), 172–183.
Moltmann, J. (1991). God in creation: a new theology of creation and the Spirit of God. In Gifford lectures ; 1984-1985.
Paus Fransiskus. (2015). Laudato Si’: Tentang Perawatan Rumah Kita Bersama. In Obor Media.
Pusung, M. (2024). Srategi Gereja Dalam Menumbuhkan Iman. Jurnal Teologi Pastoral Konseling, 1(4).
Rizal, D. A., Vella, N. K. S., & Khairunnisa, T. (2025). Ensiklik Laudato Si’ dalam Sudut Pandang Ekoteologi Sallie Mcfague: Sebuah Analisis Teologis. Melo: Jurnal Studi Agama-Agama, 5(2), 143–156. https://doi.org/10.21009/jgg.051.03.4
Siahaan, S. . (2001). Penyelamatan Alam Menurut Alkitab.
White, L. (1967). The historical roots of our ecologic crisis. Science, 155(3767), 1203–1207. https://doi.org/10.1126/science.155.3767.1203

